Sadar atau tidak, orang selalu mengasumsikan patah hati dengan putus cinta atau apapun yang berhubungan dengan cinta. Mungkin karena hati dan cinta selalu digambarkan dalam bentuk yang sama. Mungkin karena banyak asumsi bahwa putus cinta benar-benar membuat hati seseorang hancur berkeping-keping. Bahkan ada yang bilang kalau sakit hati lebih sakit dari sakit gigi.
Padahal patah hati bisa disebabkan oleh banyak hal. Menurutku semua hal yang berhubungan dengan kekecewaan, sudah bisa dikatakan patah hati. Mengapa? Ya karena sebelum kita kecewa, hati kita berbunga-bunga dan senang bukan kepalang. Namun ketika kita kecewa, hati kita rasanya tertusuk-tusuk. Rasanya kan kurang lebih sama dengan putus cinta. Memang mungkin rasa sakit atau kecewanya berbeda, tapi tetap saja hati kita tidak lagi berbunga-bunga. Kita tidak lagi bersenang-senang.
Ketika aku di SD, aku patah hati justru karena tidak jadi manggung di sekolah. Ceritanya, teman saya ditawarkan menari balet di acara malam kesenian (kalau saya tidak salah). Kemudian dia mengajak saya untuk nari bareng. Karena ngga bisa nari balet, saya tolak meskipun dalam hati mau banget. Berhubung aku pernah menari modern, dia pun tetap mengajak karena toh pasti ada latihannya. Setelah akhirnya saya iyakan ajakannya, eh malah ternyata karena waktu latihan yang sangat mepet, kesempatan manggung itu batal. Akhirnya temanku manggung sendirian. Huh... untuk ukuran anak SD kecewa dan sedih banget loh rasanya. Gagal deh manggung di depan umum.
Selama kita sekolah, kalau dapat nilai ulangan atau rapor jelek, pasti deh kita kecewa. Lagi-lagi patah hati. Meskipun mungkin kita tahu kalau persiapan kita untuk ulangan itu memang kurang. Namun saat menerima hasilnya, kita tetap kecewa. Apalagi kalau melihat orang lain senang karena nilainya bagus, wah langsung tambah sedih banget. Aku ingat jaman sekolah dulu ada daftar ranking siapa nomor satu atas, siapa nomor satu bawah. Kalau tahu nilai rata-rataku hampir sama dengan nilai rata-rata kelas, langsung sedih bukan main. Ditambah lagi adanya bonus-bonus dari restoran tertentu jika kita bisa masuk posisi 10 besar yang membuat aku tambah kecewa kalau ngga dapat. Kalau ketemu sepupu-sepupu dan tahu mereka rankingnya lebih bagus, rasanya sedih banget. Bahkan kakakku pernah nangis gara-gara hal beginian.
Ketika kuliah, yang aku paling ingat adalah pas bikin skripsi. Aduuhh rasanya tuh ketar-ketir. Lagi semangat-semangatnya bikin, langsung dong ketemu dosen pembimbing. Ehhh buntutnya malah ditolak. Jangankan ditolak, harus revisi sedikit saja, selesai bimbingan langsung manyun. Bikin patah hati plus patah semangat.
Lepas dari urusan sekolah, lagi-lagi dihadapkan akan kekecewaan dalam mencari pekerjaan. Mungkin puluhan surat lamaran sudah dikirimkan, tetapi nihil hasilnya. Susahnya mencari pekerjaan bisa bikin kecewa dan patah hati. Namun orang yang sudah mendapatkan pekerjaan pun bisa mengalami patah hati.
Mungkin masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa disebut patah hati. Jangan-jangan hampir setiap hari kita patah hati. Terutama bila hal tersebut berkaitan dengan mimpi-mimpi kita yang tak tercapai.
Patah hati baik. Patah semangat tidak baik.