my own little world" /> my own little world" />

21.12.05 

:: Perempuan itu adalah ibuku ::

oleh Arifin. C. Noer

Perempuan itu bernama kesabaran
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja dia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan itu menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang

Telah memaafkan setiap dosa dan
Kenakalan anak-anak sepanjang zaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan matahari surga

Bagi siapa Tuhan memberikan singgasana-Nya
Dan dengan segala ketulusan ia membasuh
Setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibuku


*untuk semua ibu di muka bumi:

Terima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan kepada kami.

Terima kasih atas pengorbanan saat mengandung, melahirkan, menimang dan membesarkan kami.


Selamat Hari Ibu 22 Desember 2005

15.12.05 

:: happy birthday dad ::

Kemaren (14/12) bokap ultah. Jauh-jauh hari kadonya udah dipikirin. Pagi sebelum berangkat kantor, kami berdoa bersama. Kemudian masing-masing dari kami memberikan ucapan selamat pada papa sekaligus memberi kado dari bersama. Senang rasanya melihat papa bahagia dan segar.

Kami sama sekali tidak bikin acara apa-apa. Kue ultah pun dapat dari bank..hehehe Hanya mamaku masak sup breinebun (kacang merah) dan b*** kecap. Wah sempat seharian ngebayangin itu di kantor, pasti enak banget. Makan malam pun kami di rumah dan makan apa yang tersedia. Kami memang paling malas dinner di restoran. Papaku juga paling malas bikin pesta. Sungguh bukan orang Ambon sejati sebenarnya =) Tiup lilin saja dipaksa dulu baru mau. Kostumnya cuma baju rumah apa adanya: kaos dan celana pendek...hihihi

Aku benar-benar bersyukur Tuhan masih memberikan kesehatan dan tambahan usia bagi papa. Terutama setelah papa mengalami serangan jantung dan harus menjalani kateterisasi hampir 2 tahun lalu.

Thanks God for blessing my lovely dad...

Happy Birthday Dad...May God be with you always!!! I LOVE YOU...

 

:: antara Narnia dan becak ::

Inilah kisah malam minggu di Makassar weekend lalu (9-11/12)...

Seusai acara makan malam di RM Istana Laut, rombongan tim yang (mengaku) anak-anak muda memiliki rencana bermalam-minggu bersama dengan nonton film Narnia di Mal Ratu Indah (MaRI). Kita berangkat ramai-ramai dari Hotel Pantai Gapura, diantar oleh Nataniel (tim Gramedia). Film mulai pukul 22.00 WITA. Awalnya kami semua masih semangat dan excited, tapi terakhir-akhir satu-persatu mulai terlihat bosan. Terutama karena film tersebut panjang banget durasinya, sekitar 2 jam.

Sekitar jam 00.30 pagi, setelah film itu kelar, kami berenam (AL, SM, MA, YH, SW, SS) naik becak untuk kembali ke hotel. Ceritanya saya dan SM mau promosi bagaimana nikmatnya naik becak di Makassar. Namun, ternyata para pengemudi becak tak ingin kami menikmati kesempatan malam itu. Dari awal start di depan MaRI, para daeng (panggilan untuk tukang becak di sana, Red.) langsung ngebut nggak kira-kira. Becak saya dan SM hampir menabrak motor saat hendak belok kiri. Di lain kesempatan, becak kami hampir bertabrakan dengan becak lainnya.

Tibalah kami mendekati Jalan Sultan Hasanuddin, jalan di sepanjang Pantai Losari. Terdengar suara motor dalam kecepatan tinggi. Ngueng...Ngueng...Ngueng... “Waduh balapan nih jangan-jangan,” kataku dalam hati. Ternyata benar. Ketika kami memasuki jalan utama tersebut, kerumunan orang di kanan-kiri jalan tampak sangat jelas. Kegembiraan mereka seakan bertambah dengan kehadiran hiburan 3 becak. Bahkan sebagian menepuki kami yang seakan-akan menjadi selebriti sesaat.

Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara motor jatuh dan saya bisa melihat bagaimana orang terguling-guling di aspal. Tak terlintas sedikit pun bahwa 2 teman saya juga celaka. Setelah becak saya berhasil melewati kecelakaan itu, saya tersadar bahwa becak teman saya tidak lagi berada di dekat saya dan SM. Benar. Suara motor sebelumnya itu adalah saat menabrak becak teman saya yang mengakibatkan becak mereka terbalik. Untungnya mereka tidak luka parah, tidak gegar otak dan patah-patah.

Kalau diingat-ingat memang kejadian itu terkesan lucu karena jauh-jauh dikirim kantor ke Makassar malah jatuh dari becak. Saya pun merasa bersalah karena saya dan SM yang mempromosikan becak Makassar. Maaf ya MA dan YH...

Malam minggu yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang karena pergi ramai-ramai. Sedih karena filmnya nggak bagus dan juga adanya kecelakaan becak.

Versi lain cerita ini dari sisi korban bisa dilihat di blog Yassin Hidayat

12.12.05 

:: Dari Makassar, pandangan mata di balik dan depan layar ::

Perspektif Online

12 December 2005

Oleh Astrid

Sabtu (10/12) merupakan hari puncak kegiatan Wimar menyapa masyarakat Makassar secara langsung bertatap muka. Seperti kegiatan pagi pada umumnya, tim Perspektif Baru mengawali hari dengan sarapan di hotel. Wimar bahkan menyempatkan diri berenang demi menjaga stamina tubuh. Seusai sarapan, Wimar mewawancarai Hamid Paddu, seorang ekonom dan dosen Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengenai ketidaksetaraan dalam desentralisasi. Sementara itu, sebagian tim menjemput tim kedua Perspektif Baru di Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Lengkaplah tim peluncuran buku di Makassar.

Siang hari, acara di hotel diisi dengan menyantap makanan khas Sulawesi dari RM Woku-Woku. Kali ini kami menghindari menu ikan karena pada malam harinya kami kembali diundang oleh Triyatni menikmati masakan ikan khas Makassar.

Beberapa jam menjelang acara peluncuran, tim PB bersama tim Gramedia melakukan persiapan-persiapan di toko buku Gramedia Mal Ratu Indah (MaRI). Banner besar berdiri kokoh di depan toko, membuat pengunjung MaRI tergerak untuk masuk ke Gramedia.

Sekitar pukul 16.00 WITA, rekan-rekan media dan tamu acara mulai berdatangan. Meskipun kursi-kursi yang disediakan belum terisi penuh, tetapi keramaian sudah terlihat di dalam Gramedia. Sesuai dengan jadwal acara, tepat pukul 17.00 WITA, MC dari Gramedia membuka acara dan memanggil Wimar dan Triyatni Martosenjoyo. Triyatni yang adalah kawan lama Perspektif, kebetulan memiliki kapasitas yang pas untuk menjadi tamu acara itu.

Acara dilanjutkan dengan penjelasan Wimar mengenai sejarah Perspektif Baru dan profil Yayasan Perspektif Baru serta Konrad Adenauer Stiftung (KAS). Dijelaskan pula mengenai website Perspektif Online dan Perspektif Baru oleh Satya Witoelar selaku web masternya.

Sesi tanya-jawab menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang ingin berbincang-bincang dengan WW. Sama seperti talk show di radio SPFM sehari sebelumnya (9/12), pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat beragam. Antara lain: mengapa memilih kota Makassar sebagai tempat peluncuran buku, mengapa WW tidak lagi tampak se-nyali dulu di era pemerintahan Gus Dur, apa komentar WW mengenai ICMI dan mengapa WW sudah lama tidak muncul di TV. Hampir seluruh penanya menyatakan kerinduan mereka akan kehadiran WW di layar TV. Jawaban-jawaban sopan, tegas dan bijaksana keluar dengan lancar dari mulut WW. Kadang Triyatni turut mengomentari jawaban-jawaban WW sehingga acara berlangsung tidak membosankan. Apalagi ada hadiah buku dan souvenir dari Perspektif Baru yang dibagikan untuk penanya. Jatah hadiah yang awalnya dibatasi untuk 8 orang, terpaksa ditambah menjadi 11 hadiah, karena banyaknya penanya.

Tak kalah menarik adalah sesi book signing dan foto bareng Wimar. Para pengunjung terlihat sangat antusias akan momen tersebut. Dalam hitungan detik, meja Wimar penuh oleh penggemarnya. Mereka benar-benar menggunakan kesempatan untuk melakukan kopi darat. Wimar pun menanggapi dengan semangat.

Acara peluncuran berjalan dengan sukses hingga pukul 18.30 WITA. Semua tim yang terlibat sangat puas dan senang meskipun lelah. Sungguh merupakan kerja sama tim yang sangat baik antara Yayasan Perspektif Baru dan Gramedia. Bravo!

7.12.05 

:: patah hati ::

Sadar atau tidak, orang selalu mengasumsikan patah hati dengan putus cinta atau apapun yang berhubungan dengan cinta. Mungkin karena hati dan cinta selalu digambarkan dalam bentuk yang sama. Mungkin karena banyak asumsi bahwa putus cinta benar-benar membuat hati seseorang hancur berkeping-keping. Bahkan ada yang bilang kalau sakit hati lebih sakit dari sakit gigi.

Padahal patah hati bisa disebabkan oleh banyak hal. Menurutku semua hal yang berhubungan dengan kekecewaan, sudah bisa dikatakan patah hati. Mengapa? Ya karena sebelum kita kecewa, hati kita berbunga-bunga dan senang bukan kepalang. Namun ketika kita kecewa, hati kita rasanya tertusuk-tusuk. Rasanya kan kurang lebih sama dengan putus cinta. Memang mungkin rasa sakit atau kecewanya berbeda, tapi tetap saja hati kita tidak lagi berbunga-bunga. Kita tidak lagi bersenang-senang.

Ketika aku di SD, aku patah hati justru karena tidak jadi manggung di sekolah. Ceritanya, teman saya ditawarkan menari balet di acara malam kesenian (kalau saya tidak salah). Kemudian dia mengajak saya untuk nari bareng. Karena ngga bisa nari balet, saya tolak meskipun dalam hati mau banget. Berhubung aku pernah menari modern, dia pun tetap mengajak karena toh pasti ada latihannya. Setelah akhirnya saya iyakan ajakannya, eh malah ternyata karena waktu latihan yang sangat mepet, kesempatan manggung itu batal. Akhirnya temanku manggung sendirian. Huh... untuk ukuran anak SD kecewa dan sedih banget loh rasanya. Gagal deh manggung di depan umum.

Selama kita sekolah, kalau dapat nilai ulangan atau rapor jelek, pasti deh kita kecewa. Lagi-lagi patah hati. Meskipun mungkin kita tahu kalau persiapan kita untuk ulangan itu memang kurang. Namun saat menerima hasilnya, kita tetap kecewa. Apalagi kalau melihat orang lain senang karena nilainya bagus, wah langsung tambah sedih banget. Aku ingat jaman sekolah dulu ada daftar ranking siapa nomor satu atas, siapa nomor satu bawah. Kalau tahu nilai rata-rataku hampir sama dengan nilai rata-rata kelas, langsung sedih bukan main. Ditambah lagi adanya bonus-bonus dari restoran tertentu jika kita bisa masuk posisi 10 besar yang membuat aku tambah kecewa kalau ngga dapat. Kalau ketemu sepupu-sepupu dan tahu mereka rankingnya lebih bagus, rasanya sedih banget. Bahkan kakakku pernah nangis gara-gara hal beginian.

Ketika kuliah, yang aku paling ingat adalah pas bikin skripsi. Aduuhh rasanya tuh ketar-ketir. Lagi semangat-semangatnya bikin, langsung dong ketemu dosen pembimbing. Ehhh buntutnya malah ditolak. Jangankan ditolak, harus revisi sedikit saja, selesai bimbingan langsung manyun. Bikin patah hati plus patah semangat.

Lepas dari urusan sekolah, lagi-lagi dihadapkan akan kekecewaan dalam mencari pekerjaan. Mungkin puluhan surat lamaran sudah dikirimkan, tetapi nihil hasilnya. Susahnya mencari pekerjaan bisa bikin kecewa dan patah hati. Namun orang yang sudah mendapatkan pekerjaan pun bisa mengalami patah hati.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa disebut patah hati. Jangan-jangan hampir setiap hari kita patah hati. Terutama bila hal tersebut berkaitan dengan mimpi-mimpi kita yang tak tercapai.

Patah hati baik. Patah semangat tidak baik.