:: cerita bajaj 2 ::
Hari ini lagi-lagi aku ke PIM naik bajaj. Kali ini berdua HW, teman kantorku. Oia, di kantor, kalau manggil rekan kerja, pakai inisial. Aku dipanggil AL (astrid lewarissa). Bos besar WW (wimar witoelar). Bos yang (katanya) mirip inneke, WT (widya tresna). Temen yang bangga dibilang mirip samuel rizal, MA (maro alnesputra). Nah yang pergi sama aku ke PIM adalah HW (herdiny wulandari). Begitu seterusnya di kantor, semua pakai inisial.
Ceritanya, HW ngajakin nyari kado untuk IK (ira koesno) yang hari ini ultah. Kita naik bajaj dari ITC seperti biasa. Nawar dari 8000 jadi 6000. Begitu duduk dan pintu ditutup, melajulah bajaj. Tau apa yang terjadi? Baru juga jalan, untuk keluar dari barisan bajaj yang lain, dengan tenangnya si supir langsung banting setir. Kaget!
Kejutan kedua, dia langsung melaju ke barisan paling depan melewati mobil-mobil yang mengantri di lampu merah. Kita berdua lihat-lihatan dan berkata, "Mau 8000 aman atau 6000 ugal-ugalan?" hehehehe... Untungnya, kita sampai dengan selamat di PIM.
Setelah putar-putar mencari kado, kembalilah kita berdua ke kantor. Nawar bajaj lagi. Kali ini dari 8000 jadi 7000. Naik, tutup pintu, jalanlah bajaj. HW pun berpesan, "Hati-hati ya bang, bawa barang pecah belah nih."
"Iya neng," jawab si abang.
Tanjakan lewat dengan aman. Namun pas tiba waktu untuk melewati lampu merah, si supir masih saja mempertahankan bajajnya di kiri jalan. Tiba-tiba banting setir ambil kanan dan langsung tancap gas lurus melewati lampu merah. Lihat-lihatan lagi deh kita berdua. Baru selesai kita lihat-lihatan, eh pas tikungan ada mobil mundur. Si supir bukannya berhenti malah klakson dan banting setir ke kanan terus kiri lagi. Mobil itu sempet mundur sedikit dan berhubung aku yang duduk di pinggir kiri, deg-degan dong. Langsung lah aku mukul paha HW (maaf ya HW!). HW pun langsung berubah juga raut mukanya.
Kejutan berikutnya adalah ketika dia tiba-tiba nyelip di kiri jalan untuk memotong masuk ke jalan sempit. Lalu ketika antrian begitu panjang di lampu merah ITC, lagi-lagi si supir membawa bajaj memotong ke kiri jalan dan langsung berada di paling depan melebihi tiang lampu, sejajar dengan motor-motor. Begitu sampai ITC pun, dia masih sempat bikin deg-degan ketika harus memutar balik.
Ya ampyun deh...Benar-benar gila! Ternyata naik bajaj di siang hari lebih horor dibanding naik di sore/malam hari. Benar-benar hanya si supir dan Tuhan yang tahu ke mana bajaj itu menuju. Terutama jika jalanan sedang macet-macetnya, disarankan tidak naik bajaj karena segala hal bisa terjadi tiba-tiba.
Memang bajaj tidak aman untuk penderita sakit jantung.







