my own little world" /> my own little world" />

26.10.05 

:: bajaj & aku ::



from google

ITC Fatmawati - PIM = Rp 6000

ITC Fatmawati - Blok M Plaza = Rp 8000


Akhir-akhir ini diri ini begitu akrab sama kenda
raan roda tiga yang hampir tamat riwayatnya: Bajaj.

Dulu aku sering sebel sama Bajaj, tepatnya sih supirnya. Bayangin aja, jalanan udah macet & pas-pasan, eh masih aja loh dia nyelonong nyelip-nyelip. Belum lagi, humor lainnya mengenai Bajaj. "Kendaraan yang hanya Tuhan & supirnya tahu mau ke mana dia menuju". Memang kondisi Bajaj sudah sangat memprihatinkan. Bila malam tiba, lampunya sudah tidak dapat dinyalakan lagi. Bahkan pernah, ketika aku mau memberhentikan, si supir ngga melihat dari jauh karena gelap banget.

Kini aku boleh dibilang cukup akrab sama Bajaj. Meskipun kini sudah ada Kancil, tapi di daerah Jakarta Selatan, belum banyak Kancil beroperasi. Paling-paling kalau mau naik di daerah Blok M, baru kita bisa menemukan Kancil. Berawal dari kebutuhan akan kendaraan menuju PIM saat pulang malam dari kantor, aku jadi seperti ketagihan naik Bajaj. Awalnya sih kayak orang nostalgia masa-masa TK-SMP, tapi lama-lama jadi merasa bahwa cukup berguna juga kendaraan yang ngga ada matinya ini.

Terakhir kali naik Bajaj ke PIM, aku berantem sama supir Bajaj-nya, gara-gara dengan seenaknya dia ngga mau nerima uang Rp 6000 yang aku kasih. Sinting kali tuh orang. Pakai bilang begini pula, "Saya minta tambah 2000 lagi. Kalau neng ngga mau, ya udah deh mending ngga usah bayar!"

"Buset dah nih orang, belagu bener yak. Sok ngga butuh duit," benakku berkata begitu. Namun karena rasa iba akan keluarganya yang mungkin saja membutuhkan uang, aku tambah 1000. Ehh masih aja loh dia ngedumel. Tak apa lah, pikirku. Nanti juga akan terpakai uang itu.

Belum lagi, pas tiba di PIM dan bertemu teman-teman, ada yang mentertawakanku karena naik Bajaj. Namun pada akhirnya, mulailah temanku juga berpikir untuk lebih menggunakan Bajaj dibanding taksi, terutama karena faktor murahnya...hahahaha

Menurutku, ada beberapa alasan mengapa Bajaj masih harus diperhitungkan kegunaannya:
1. Ngga ada tarif buka pintu seperti taksi, jadi tarif Bajaj relatif murah kok.
2. Karena kecil, jadi cukup lincah untuk nyelip-nyelip menerjang kemacetan.
3. Dijamin lebih aman daripada motor, meskipun rambut berantakan masih bisa terjadi kalau naik Bajaj.

Nah itu dia tadi. Setelah aku akhirnya menikmati Bajaj kembali, kasian juga ternyata kalau Bajaj dianaktirikan. Supir-supirnya, terutama yang sudah berkeluarga, butuh nafkah untuk keluarga mereka. Jadi mari kita tegakkan, penggunaan Bajaj sebagai alat transportasi. =D

ps: untuk para penderita penyakit jantung, disarankan untuk tidak menggunakan Bajaj karena sang supir kalau nyetir suka seenaknya dan bikin jantungan.

1.10.05 

:: ... ::


bom


bom

bom

...